Powered By Blogger

Kamis, 22 September 2011

rancangan pnlitian

Senin, 15 November 2010

BEBERAPA JENIS IKAN CUPANG (Betta sp) SEBAGAI BIO KONTROL TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti

BEBERAPA JENIS IKAN CUPANG (Betta sp) SEBAGAI BIO KONTROL
TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti
Oleh :
Ilham Budi Setayawan
201010070311059


PENDAHULUAN


A.Latar Belakang Masalah
  Demam berdarah meripakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini merupakan masalh penting dikawasan Asia Tenggara, karena dapay menyababkan kematian terutama pada anak-anaka (Departemen Kesehatan RI, 1989). Penyakit demam berdarah selama ini belum ditemukan obatnya dan satu-atunya pencegahan adalah melalui pengendalian nyamuk (Direktorat jendral pemberantasan Penyakit Menular dan Pemberantasan Lingkungan Penyakit,1990)
Di indonesia penaykit ini merupkan salh satu masalah kesehatn yang cukup serius di beberapa derah. Demam Berdarah Dengue (DBD) sering menimbulkan kejadian luar biasa sehingga memerlukan perhatian yang serous dari petugas kesehatn maupun masyarakat. Pada tahun 2010 total jumlah penderita DBD di daerah ini dalam kurun Januari-Maret mencapai 550 orang dan lima orang di antaranya meninggal. Pada Bulan Januari satu orang, Februari dua orang, dan Maret dua orang. Secara rinci, dari 550 orang penderita DBD tersebut pada Bulan Januari tercatat 382 penderita, Februari 143 penderita dan Maret 25 orang. Dari 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang, delapan di antaranya merupakan daerah endemik DBD, yakni Kecamatan Kepanjen, Lawang, Dau, Bululawang, Pakisaji, Turen, dan Pakis (Dinasa Kesehatan Kab. Malang,2010).
Tinggi rendahnya angka kematian karena penykit DBD ini berhubungan dengan tinggi rendahnya populasi nyamuk Aedes aegypti sebagai penyakit tersebut. Semakin tinggi populasai nyamuk maka memungkinkan jumlah penderita makin banyak (Departemen KesehatanRI,1994). Upaya pengendalian nyamuk yang sering dilakukan adalah dengan insektisida kimia. Salah satu insektisida yang dipakai dalam mengendalikan nyamuk Ae. Aegtpyi adalaha yang dikenal dengan merek dagang abate 1% berbentuk, yang mempunyai daya residu kurang lebih satu bulan pada penampungan air. Namun pemakain insektisida yang terus menerus akan menimbulkan resisitensi terhadap nyamuk dari generasi ke generasi. Bahkan dapat tidak mampu lagi untuk membunuh nyamuk tertentu (Arhadi,dkk., 1990:Tarumingkeng, 1992).
Untuk itu perlu altenatif lain dalam pengendalian nyamuk yang aman bagi manusia dan ramah terhadap lingkungan tetapi tetap efektif untuk pengendalian nyamuk. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu menggunakan hewan yang dikenal dengan pengendalian bilogis. Yaitu penggunaan ikan pemakan jentik nyamuk (Costa,1981: Morf, 1990). Dalam hal ini akan digunakan beberapa jenis ikan cupang (Betta sp).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dengan permasalahan diatas dapat di rumuskan masalah sebagai berikut:
  1. Apakah ada perbedaan yang signifikan dari beberapa jenis Ikan Cupang (Betta sp) terhadap bio kontrol larva nyamuk Aedes aegypti?
  2. Bagaimana kecepatan makan beberapa jenis ikan cupang (Betta sp) terhadap larva nyamuk aedes aegypti?
  3. Seberapa banyak larva yang dimakan dari beberapa jenis ikan cupang (Betta sp)?

TINJAUN PUSTAKA

Larva Nyamuk Ades aegypti
Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, A. aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, A. aegypti merupakan pembawa utama (primary vector) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan jenis ini untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah. (Womack, M. 1993.)
Semua nyamuk mengalami siklus hidup yang disebut sebagai metamorfosis. Metamorfosisnya adalah metamorfosis sempurna (4 tahap). Metamorfosis itu sendiri merupakan proses perubahan bentuk tubuh makhluk hidup selama masa hidupnya. (Anonim, diakses pada 2009). Nyamuk A. aegypti, seperti halnya culicines lain, meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual. Telur berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu dengan yang lain. Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan waktu sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar ke-4, larva berubah menjadi pupa di mana larva memasuki masa dorman. Pupa bertahan selama 2 hari sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa. Perkembangan dari telur hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7 hingga 8 hari, namun dapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak mendukung.(Anonim, diakses pada 6 Maret 2010)
Ikan Cupang (Betta sp)
Cupang (Betta sp.) adalah ikan air tawar yang habitat asalnya adalah beberapa negara di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Ikan ini mempunyai bentuk dan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Di kalangan penggemar, ikan cupang umumnya terbagi atas tiga golongan, yaitu cupang hias, cupang aduan, dan cupang liar. Ikan cupang adalah salah satu ikan yang kuat bertahan hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di wadah dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat bertahan hidup. Ikan cupang dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
  1. Halfmoon (setengah bulan), cupang jenis ini memiliki sirip dan ekor yang lebar dan simetris menyerupai bentuk bulan setengah. Jenis cupang ini pertama kali dibudidaya di Amerika Serikat oleh Peter Goettner pada tahun 1982.
  2. Crowntail (ekor mahkota) atau serit, cupang jenis ini pertama kali dibudidayakan oleh seorang peternak cupang yang tinggal di daerah Jakarta Timur, pada tahun 1998. Ciri utamanya adalah sirip dan ekornya yang menyerupai sisir sehingga di namakan serit.
  3. Double tail (ekor ganda)
  4. Plakat Halfmoon
  5. giant (cupang raksasa), cupang jenis ini merupakan hasil perkawinan silang antara cupang biasa dengan cupang alam, cupang jenis ini ukurannya bisa mencapai 12 cm. (Anonim,diakses pada 29 April 2010)
2. Crowntail (serit), 3. Doubletail (ekor ganda) 5.giant (cupang raksasa)


METODOLOGI PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium,serok halus, thermometer,pH meter, tally counter (alat penghitung), wadah plastik berbentuk gelas (gelas aqua) dan keratas label. Sedangkan bahan yang digunakan adalh beberapa jenis ikan cupang yaitu jenis crowntail, doubletail dan giant, dengan umur 2-3 bulan, larva nyamuk aedes, dan air sebagai media pemeliharaan larva dan ikan.
Cara Kerja
Persiapan Stok Larva. Larva nyamuk berasal dari pencarian di beberapa tempat endemik nyamuk berdarah.
Pemeliharaan Larva Nyamuk. Pemeliharaan larva sampai menjadi larva stadium III dan IV, dan siap digunkan sebagai hewan uji akan sebagai hewan uji.
Pengujian Jenis Ikan Cupang Terhadap Larva. Tiga jenis ikan yaitu jenis crowntail,doubletail dan gaint masing-masing 3 ekor dengan kisaran umur 2-3 bulan dimasukkan ke dalam 9 akuarium. Kemudian dimasukkan larva sebanyak 2 kali sehari, yaitu pada pukul 08.00 dan pukul 14.00 WIB sebanyak 15 ekor pada masing-masing akuarium. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 7 hari dan penghitungan larva yang masih tersisa atau yang telah termakan dilakukan setiap satu jam setelah pemberian larva dan satu jam sebelum pemberian larva, menggunakan alat tally counter.
Parameter yang Diukur. Pada penelitian parameter yang diukur adalah jumlah larva yang habis termakan dan kelahapan makan ikan berbagai jenis berdasarkan lamanya waktu yang diperlukan untuk menghabiskan larva.
Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kali perlakuan yaitu 3 jenis ikan cupang yaitu crowntail, doubletail, gaint dengan ulangan sebanyak 5 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan mensertakan gambar bagan interval jumlah larva yang habis termakan dan kelahapan ikan.


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian,diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. Kemampuan makan ikan cupang (Betta sp) lebih tinggi dibandingkan dengan ikan lainya.
  2. Kemampuan makan pada berbagai jenis ikan cupang terhadap larva nyamuk dipengaruhi beberapa faktor lain : keagresifitasan ikan serta lamanya waktu.
  3. Secara keseluruhan faktor parameter kualitas air (temperatur, derajat keasaman/pH) masih dalam batas toleransi kehidupan sehingga tidak memberikan pengaruh secara nyata.
  4. Kemampuan makan dari 3 jenis ikan cupang sangat bervariasi.

REFRENSI
Anonim.2010. Ades aegypti. http://id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti . Di akses tanggal 6 Maret 2010.
Anonim.2010. Ikan Cupang. http://id.wikipedia.org/wiki/ikan cupang. Di akses tanggal 29 April 2010.
Anonim.2009. Nymuk Penyebab DBD. http://www.anneahira.com/nyamuk-penyebab-demam-berdarah.htm
Arhadi,H.D. Bhagawati, dkk. 1990. Pengendalian Hayati larva Culex sp dengan Menggunakan Beberapa Ekstrak Tanaman Air. Laporan Hasil Penelitian. Fakultas Biologi Universitas Jendral Sudirman. Purwokerto
Chosta, H.1981. Selection and Use Larviforous Fish in Mosquito Control and Prosedure For Their Fiedly Evaluation. Work and Regional Man Power Requirement in Entomologycal Aspect of Malaria Control Programers. Colombo. Srilanka.
Departemen Kesehatan RI.2003. Survey DBD. Depkes RI.
Departemen Kesehatan RI.1989. Pedoman Kerja Puskesmas.Depkes RI.
Dinasa Kesehatan Kab. Malang. 2010. Survey Penyakit DBD di Kab Malang. Din.Kes Malang.
Jefri.2010. Pemeliharaan Ikan Cupang. http:/ /jeffri022.student.umm.ac.id/2010 /02/10/memelihara-ikan-cupang/. Di akses tanggal 10 Februari 2010
Rosa, Emantis; G.Nugroho susanto,dkk. 2000. Beberapa Jenis Ikan Sebagai Bio Kontrol Tehadap Larva Nyamuk Aedes aegypti. Laporan Hasil Penelitian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi. Universitas Negeri Lampung. Bandar Lampung
Womack, M. 1993. The Yellow Fever Mosquito, Aedes aegypti. Wing Beats, Vol. 5(4):4



Tidak ada komentar:

Posting Komentar