Senin, 15 November 2010
BEBERAPA JENIS IKAN CUPANG (Betta sp) SEBAGAI BIO KONTROL TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti
BEBERAPA JENIS IKAN CUPANG (Betta sp) SEBAGAI BIO KONTROL
TERHADAP LARVA NYAMUK Aedes aegypti
Oleh :
Ilham Budi Setayawan
201010070311059
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Demam
berdarah meripakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini merupakan
masalh penting dikawasan Asia Tenggara, karena dapay menyababkan
kematian terutama pada anak-anaka (Departemen Kesehatan RI, 1989).
Penyakit demam berdarah selama ini belum ditemukan obatnya dan
satu-atunya pencegahan adalah melalui pengendalian nyamuk (Direktorat
jendral pemberantasan Penyakit Menular dan Pemberantasan Lingkungan
Penyakit,1990)
Di indonesia penaykit ini merupkan salh satu masalah kesehatn yang
cukup serius di beberapa derah. Demam Berdarah Dengue (DBD) sering
menimbulkan kejadian luar biasa sehingga memerlukan perhatian yang
serous dari petugas kesehatn maupun masyarakat. Pada tahun 2010 total
jumlah penderita DBD di daerah ini dalam kurun Januari-Maret mencapai
550 orang dan lima orang di antaranya meninggal. Pada Bulan Januari satu
orang, Februari dua orang, dan Maret dua orang. Secara rinci, dari 550
orang penderita DBD tersebut pada Bulan Januari tercatat 382 penderita,
Februari 143 penderita dan Maret 25 orang. Dari 33 kecamatan yang ada di
Kabupaten Malang, delapan di antaranya merupakan daerah endemik DBD,
yakni Kecamatan Kepanjen, Lawang, Dau, Bululawang, Pakisaji, Turen, dan
Pakis (Dinasa Kesehatan Kab. Malang,2010).
Tinggi rendahnya angka kematian karena penykit DBD ini berhubungan
dengan tinggi rendahnya populasi nyamuk Aedes aegypti sebagai penyakit
tersebut. Semakin tinggi populasai nyamuk maka memungkinkan jumlah
penderita makin banyak (Departemen KesehatanRI,1994). Upaya pengendalian
nyamuk yang sering dilakukan adalah dengan insektisida kimia. Salah
satu insektisida yang dipakai dalam mengendalikan nyamuk Ae. Aegtpyi
adalaha yang dikenal dengan merek dagang abate 1% berbentuk, yang
mempunyai daya residu kurang lebih satu bulan pada penampungan air.
Namun pemakain insektisida yang terus menerus akan menimbulkan
resisitensi terhadap nyamuk dari generasi ke generasi. Bahkan dapat
tidak mampu lagi untuk membunuh nyamuk tertentu (Arhadi,dkk.,
1990:Tarumingkeng, 1992).
Untuk itu perlu altenatif lain dalam pengendalian nyamuk yang aman bagi
manusia dan ramah terhadap lingkungan tetapi tetap efektif untuk
pengendalian nyamuk. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu menggunakan
hewan yang dikenal dengan pengendalian bilogis. Yaitu penggunaan ikan
pemakan jentik nyamuk (Costa,1981: Morf, 1990). Dalam hal ini akan
digunakan beberapa jenis ikan cupang (Betta sp).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dengan permasalahan diatas dapat di rumuskan masalah sebagai berikut:
- Apakah ada perbedaan yang signifikan dari beberapa jenis Ikan Cupang (Betta sp) terhadap bio kontrol larva nyamuk Aedes aegypti?
- Bagaimana kecepatan makan beberapa jenis ikan cupang (Betta sp) terhadap larva nyamuk aedes aegypti?
- Seberapa banyak larva yang dimakan dari beberapa jenis ikan cupang (Betta sp)?
TINJAUN PUSTAKA
Larva Nyamuk Ades aegypti
Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, A. aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, A. aegypti merupakan pembawa utama (primary vector) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah,
masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan
jenis ini untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah. (Womack, M. 1993.)
Semua
nyamuk mengalami siklus hidup yang disebut sebagai metamorfosis.
Metamorfosisnya adalah metamorfosis sempurna (4 tahap). Metamorfosis itu
sendiri merupakan proses perubahan bentuk tubuh makhluk hidup selama
masa hidupnya. (Anonim, diakses pada 2009). Nyamuk A. aegypti, seperti halnya culicines
lain, meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual.
Telur berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu dengan yang lain.
Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva. Terdapat empat
tahapan dalam perkembangan larva yang disebut instar.
Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan waktu sekitar 5 hari.
Setelah mencapai instar ke-4, larva berubah menjadi pupa di mana larva
memasuki masa dorman. Pupa bertahan selama 2 hari sebelum akhirnya
nyamuk dewasa keluar dari pupa. Perkembangan dari telur hingga nyamuk
dewasa membutuhkan waktu 7 hingga 8 hari, namun dapat lebih lama jika
kondisi lingkungan tidak mendukung.(Anonim, diakses pada 6 Maret 2010)
Ikan Cupang (Betta sp)
- Halfmoon (setengah bulan), cupang jenis ini memiliki sirip dan ekor yang lebar dan simetris menyerupai bentuk bulan setengah. Jenis cupang ini pertama kali dibudidaya di Amerika Serikat oleh Peter Goettner pada tahun 1982.
- Crowntail (ekor mahkota) atau serit, cupang jenis ini pertama kali dibudidayakan oleh seorang peternak cupang yang tinggal di daerah Jakarta Timur, pada tahun 1998. Ciri utamanya adalah sirip dan ekornya yang menyerupai sisir sehingga di namakan serit.
- Double tail (ekor ganda)
- Plakat Halfmoon
- giant (cupang raksasa), cupang jenis ini merupakan hasil perkawinan silang antara cupang biasa dengan cupang alam, cupang jenis ini ukurannya bisa mencapai 12 cm. (Anonim,diakses pada 29 April 2010)
2. Crowntail (serit), 3. Doubletail (ekor ganda) 5.giant (cupang raksasa)
METODOLOGI PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat-alat
yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium,serok halus,
thermometer,pH meter, tally counter (alat penghitung), wadah plastik
berbentuk gelas (gelas aqua) dan keratas label. Sedangkan bahan yang
digunakan adalh beberapa jenis ikan cupang yaitu jenis crowntail,
doubletail dan giant, dengan umur 2-3 bulan, larva nyamuk aedes, dan air
sebagai media pemeliharaan larva dan ikan.
Cara Kerja
Persiapan Stok Larva. Larva nyamuk berasal dari pencarian di beberapa tempat endemik nyamuk berdarah.
Pemeliharaan Larva Nyamuk. Pemeliharaan larva sampai menjadi larva stadium III dan IV, dan siap digunkan sebagai hewan uji akan sebagai hewan uji.
Pengujian Jenis Ikan Cupang Terhadap Larva.
Tiga jenis ikan yaitu jenis crowntail,doubletail dan gaint
masing-masing 3 ekor dengan kisaran umur 2-3 bulan dimasukkan ke dalam 9
akuarium. Kemudian dimasukkan larva sebanyak 2 kali sehari, yaitu pada
pukul 08.00 dan pukul 14.00 WIB sebanyak 15 ekor pada masing-masing
akuarium. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 7 hari dan penghitungan
larva yang masih tersisa atau yang telah termakan dilakukan setiap satu
jam setelah pemberian larva dan satu jam sebelum pemberian larva,
menggunakan alat tally counter.
Parameter yang Diukur.
Pada penelitian parameter yang diukur adalah jumlah larva yang habis
termakan dan kelahapan makan ikan berbagai jenis berdasarkan lamanya
waktu yang diperlukan untuk menghabiskan larva.
Metode Penelitian. Penelitian
ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kali perlakuan
yaitu 3 jenis ikan cupang yaitu crowntail, doubletail, gaint dengan
ulangan sebanyak 5 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan
mensertakan gambar bagan interval jumlah larva yang habis termakan dan
kelahapan ikan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian,diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
- Kemampuan makan ikan cupang (Betta sp) lebih tinggi dibandingkan dengan ikan lainya.
- Kemampuan makan pada berbagai jenis ikan cupang terhadap larva nyamuk dipengaruhi beberapa faktor lain : keagresifitasan ikan serta lamanya waktu.
- Secara keseluruhan faktor parameter kualitas air (temperatur, derajat keasaman/pH) masih dalam batas toleransi kehidupan sehingga tidak memberikan pengaruh secara nyata.
- Kemampuan makan dari 3 jenis ikan cupang sangat bervariasi.
REFRENSI
Anonim.2010. Ades aegypti. http://id.wikipedia.org/wiki/Aedes_aegypti . Di akses tanggal 6 Maret 2010.
Anonim.2010. Ikan Cupang. http://id.wikipedia.org/wiki/ikan cupang. Di akses tanggal 29 April 2010.
Anonim.2009. Nymuk Penyebab DBD. http://www.anneahira.com/nyamuk-penyebab-demam-berdarah.htm
Arhadi,H.D.
Bhagawati, dkk. 1990. Pengendalian Hayati larva Culex sp dengan
Menggunakan Beberapa Ekstrak Tanaman Air. Laporan Hasil Penelitian.
Fakultas Biologi Universitas Jendral Sudirman. Purwokerto
Chosta,
H.1981. Selection and Use Larviforous Fish in Mosquito Control and
Prosedure For Their Fiedly Evaluation. Work and Regional Man Power
Requirement in Entomologycal Aspect of Malaria Control Programers.
Colombo. Srilanka.
Departemen Kesehatan RI.2003. Survey DBD. Depkes RI.
Departemen Kesehatan RI.1989. Pedoman Kerja Puskesmas.Depkes RI.
Dinasa Kesehatan Kab. Malang. 2010. Survey Penyakit DBD di Kab Malang. Din.Kes Malang.
Jefri.2010. Pemeliharaan Ikan Cupang. http:/
/jeffri022.student.umm.ac.id/2010 /02/10/memelihara-ikan-cupang/. Di
akses tanggal 10 Februari 2010
Rosa,
Emantis; G.Nugroho susanto,dkk. 2000. Beberapa Jenis Ikan Sebagai Bio
Kontrol Tehadap Larva Nyamuk Aedes aegypti. Laporan Hasil Penelitian
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi.
Universitas Negeri Lampung. Bandar Lampung
Womack, M. 1993. The Yellow Fever Mosquito, Aedes aegypti. Wing Beats, Vol. 5(4):4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar