Powered By Blogger

Minggu, 27 November 2011

Kearifan Lokal


Dianing Primanita Ayuninggar, Antariksa, Dian Kusuma Wardhani
ABSTRACT
Tenggerese community have uniqueness social cultural life pattern concerning with societies’ positive behavior in its spatial using and adaptation to environmentally around it. Tenggerese social cultural life pattern based on cultural point, religi and local tradition then forms local wisdom points, such as local wisdom in spatial using and environmental preserve effort. This research works through about local wisdom implement in spatial using and environmental preserve effort at Wonokitri Village to keep up the sustainability of Wonokitri Village. Analysis method use descriptive-explorative analysis. Observational result indicate local wisdoms points in the context of spatial using rules at Wonokitri Village, that is spatial conception bases on custom region and administration region, situating orientation of element forming residence, land ownership system, and home adaptation to climate. Local wisdom in the context of environmental preserve manages about season estimate to get cultivation, traditional technological system in farm management, breeding management system, forestand water resourches management and protection system, along with traditions in environmental preserve that exists at Wonokitri's Village. With the presence of local wisdom points that still relevant interpreted insocial cultural life patternis expected tosupportenvironmental preserve effortat Wonokitri Village.
Keywords: local wisdom, spatial using, environmental preserve effort, home adaptation to climate, traditional technological system


ABSTRAK
Masyarakat Suku Tengger memiliki keunikan pola kehidupan sosial budaya terkait dengan perilaku positif masyarakatnya dalam tindakan pemanfaatan ruang dan adaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya. Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Suku Tengger bersumber dari nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat yang kemudian membentuk nilai-nilai kearifan lokal, salah satunya adalah kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang dan upaya pemeliharaan lingkungan. Penelitian ini membahas tentang penerapan kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang dan upaya pemeliharaan lingkungan di Desa Wonokitri untuk melestarikan dan menjaga keberlanjutan Desa Wonokitri. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif eksploratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwaterdapat nilai-nilai kearifan lokal dalam konteks ketentuan pemanfaatan ruang di Desa Wonokitri, yakni konsepsi ruang berdasarkan wilayah adat dan wilayah administrasi, orientasi peletakan elemen-elemen pembentuk permukiman, sistem penguasaan dan kepemilikan tanah, serta adaptasi tempat tinggal terhadap iklim. Kearifan lokal dalam konteks pemeliharaan lingkungan mengatur tentang perkiraan musim untuk bercocok tanam, sistem teknologi tradisional dalam pengelolaan ladang/tegalan, sistem pemeliharaan hewan ternak sistem pengelolaan dan perlindungan hutan, sumber-sumber air, serta tradisi-tradisi dalam pemeliharaan lingkungan yang terdapat di Desa Wonokitri. Dengan adanya penggalian nilai-nilai kearifan lokal yang masih relevan yang diinterpretasikan dalam pola kehidupan sosial budaya masyarakat tersebut diharapkan dapat mendukung upaya pemeliharaan dan pelestarian lingkungan Desa Wonokitri.
Kata Kunci: kearifan lokal, pemanfaatan ruang, pemeliharaan lingkungan, adaptasi tempat tinggal terhadap iklim, sitem teknologi tradisional

Lihat selengkapnya di link berikut untuk mengetahui kearifan lokal  Suku Tengger dalam upaya pemeliharaan lingkungan (klilk yang berwarna biru)

Minggu, 09 Oktober 2011

no TitLe

Kala hti diam tak bergeming
Hidup trasa sepi tak b'seni
Aku rindu alunan seni yg indh
Menggtarkan,menghbur suasna hti yg gundah
Kulht sni di balik mawar indh nan harum
Mawar yg dtng dri negri sbrang
Akankah ku dptkn mwr itu
Mwar yg qu lht tk p'nh layu
Mwar yg qu lht ayu nan sendu
Mwar yg membwt aku sllu rindu
Seni adlh cnta
Aku rndu cnt yg kmbli mnggtarkn htiku
Bergetar ssuai alunan lgu
Lagu khdpn yg sllu kudambkn
Lagu khdpn yg bz membngkitkn

FAKTOR PEMBATAS EKOLOGY






Setiap tanaman dalam sikus hidupnya pastiakan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Dalam pertumbuhan tanaman terdapat berbagai faktor pembatas yang akan menentukan periode pertumbuhannya.Faktor-faktor pembatas tersebut secara garis besar terdiri dari faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik diantranya suhu, cahaya, air, nutrien maupun angin dan lain sebagainya sedangkan faktor biotik diantranya hewan, manusia dan tumbuhan lainya atau makhluk hidup di sekitarnya.
Factor-faktor pembatas abiotik
·         Suhu
Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Suhu mempengaruhi beberapa proses fisiologis penting: bukaan stomata, laju transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi, fotosintesis, dan respirasi. Peningkatan suhu sampai titik optimum akan diikuti oleh peningkatan beberapa proses fisiologis. Setelah melewati titik optimum, proses tersebut mulai dihambat: baik secara fisik maupun kimia, menurunnya aktifitas enzim (enzim terdegradasi). Pada musim kemarau, peningkatan suhu iklim mikro tanaman berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama pada daerah yang lengas tanahnya terbatas.( http://ipankreview.wordpress.com/2009/03/25/hubungan-suhu-dan-pertumbuhan-tanaman/)
·         Cahaya
Cahaya matahari adalah sumber energi utama bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia. Bagi manusia dan hewan cahaya matahari adalah penerang dunia ini. Selain itu , bagi tumbuhan khususnya yang berklorofil cahaya matahari sangat menentukan proses fotosintesis. Fotosintesis adalah proses dasar pada tumbuhan untuk menghasilkan makanan. Makanan yang dihasilkan akan menentukan ketersediaan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.

        Kekurangan cahaya matahari akan mengganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan , meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan. Selain itu , kekurangan cahaya saat perkecambahan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis dan bewarna pucat (tidak hijau). Semua ini terjadi dikarenakan tidak adanya cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk pemanjangan sel-sel tumbuhan. Sebaliknya , tumbuhan yang tumbuh di tempat terang menyebabkan tumbuhan tumbuhan tumbuh lebih lambat dengan kondisi relative pendek , daun berkembang baik lebih lebar, lebih hijau , tampak lebih segar dan batang kecambah lebih kokoh.( http://harikuyangcerah.blogspot.com/2008/12/bab-i-pendahuluan-1.html)
·         Air
Air sangat dibutuhkan oleh tanaman karena merupakan komponen utama dalam sel-sel penyusun jaringan tanaman. Kehidupan tiap sel tergantung pada sifat cairan di sekelilingnya yaitu cairan extra sel (ces), dimana air adalah komponen utama pengisi sel. Dalam larutan sel terdapat ion-ion dan molekul-molekul yang diperlukan dalam melaksanakan fungsinya dalam proses difusi, osmosis, transpor aktif dan dalam reaksi biokimia seperti fotosintesis, transpirasi dan lain-lain.( http://reensaikoe.wordpress.com/ekofisiologi-tanaman/pengaruh-kelebihan-air-terhadap-pertumbuhan-dan-produksi-tanaman/)
Air berfungsi sebagai penstimulir metabolisme dan sebagai pelarut dalam perubahan dan pengangkutan cadangan makanan kepada seluruh bagian tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Air diperlukan dalam proses pelarutan garam-garam mineral dalam tanah, alat angkut zat hara dalam tanah melalui akar, sintesis karbohidrat, sintetis protein dan sebagai alat angkut zat-zat makanan ke bagian tanaman (Rusmana, 2002). Secara garis besar fungsi air bagi tanaman adalah (Rusmana, 2002):
1. Merupakan unsur yang penting dari protoplasma terutama pada meristematik.
2. Sebagai pelarut dalam proses fotosintesis dan proses hidrolitik seperti perubahan pati menjadi gula.
3. Bagian yang esensial dalam menstabilkan sel turgor tanaman.
4. Pengatur suhu bagi tanaman, karena air mempunyai kemampuan menyerap panas yang baik.
5. Transpor bagi garam-garam, gas dan mineral lainnya dalam tubuh tanaman
Dalam Buckman and Brady (1982) disebutkan bahwa keberadaan air berdasarkan klasifikasi biologi air di dalam tanah ada tiga bentuk yaitu : air kelebihan, air tersedia dan air tidak tersedia. Pada umumnya kelebihan air yang terikat pada kapasitas lapangan tidak menguntungkan tanaman tingkat tinggi. Bila terlalu banyak air, keadaannya merugikan pertumbuhan dan menjadi lebih buruk ketika mencapai titik jenuh. Pengaruh buruk yang lain dari kelebihan air adalah terlindinya unsur hara bersama gerakan air tersebut ke bawah. Pada tanah yang bertekstur halus, hal ini mungkin hanya perpindahan unsur hara ke lapisan yang lebih bawah dan tidak terlalu dalam sehingga masih dapat diserap oleh akar tanaman.
Air merupakan pembatas pertumbuhan tanaman karena jika jumlahnya terlalu banyak menimbulkan genangan dan menyebabkan cekaman aerasi sedangkan jika jumlahnya sedikit sering menimbulkan cekaman kekeringan. Oleh sebab itu kebijakan pengelolaan air harus dilakukan agar tak terjadi water logging dan pemanfaatan air dapat seefisien mungkin sesuai kebutuhan.

·         Tanah
Tanah adalah media yang digunakan tumbuhan dan berbagi jenis mikroorganisme untuk hidup yang trebentuk dari pelapukan batuan. Tanah membantu berbagai tumbuhan bernafs, makan, menghisap air dan berbagai unsur hara yang membantu bertahan dari serangan penyakit. Tanah non organik memiliki banyak sekali kandungan mineralnya. Mineral ini membentuk partikel penyusunan tanah yaitu pasir, debu dan lempung. Komposisi ketiga partikel penyusun tanah ini yang mempengaruhi warna tanah. Jika di tanami tumbuhan akan memperoleh hasil yang optimal. Tanah organik memiliki fisik yang gembur , namun tanaman yang tumbuhn di tanah organik akan memperoleh hasil dibawah optimal.
Faktor kesuburan tanah sangat penting sekali pada peningkatan produktifitas semua tanaman, baik tanaman semusim, ataupun tanaman lainnya serta didukung oleh beberapa factor seperti jenis tanaman, permukaan tanaman, ikim, topografi dan factor manusianya itu sendiri.

·         Nutrient
Tanaman memerlukan sumber nutrisi agar bisa tumbuh subur dan mnghasilkan produk yang berkualitas untuk digunakan makhluk hidup lainnya.  Nutrisi tanaman terbagi dalam dua jenis, yaitu makronutrien dan mikronutrien.
        Makronutrien merupakan unsur yang sangat diperlukan oleh tanaman dalam jumlah yang banyak. Yang terbagi lagi dalam unsur utama dan unsur sekunder.
        Elemen makronutrien yang tergolong di dalam unsur  utama ialah Karbon (C), Hidrogen (H) , Oksigen (O) ,Nitrogen (N) , Fosforus(P)  dan Kalium(K).
        Unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen cukup mudah diperoleh tanaman melalui udara dan air. Unsur-unsur nitrogen, fosfordan kalium  biasanya diberikan kepada tanaman melalui pemupukan. Setiap unsur ini mempunyai peranan tersendiri dalam kegiatan hidup suatu tanaman.
Mikronutrien yang tergolong didalam unsure tambahan ialah Mangan(Mn), Boron(B), Zink(Z), Kuprum(Cu), Molibdeum (Mo), Besi(Fe) dan lain sebagainya. (http://mjumani.blogspot.com/2009/01/nutrisi-tumbuhan.html)
Factor-faktor pembatsas biotic
·         Mahluk hidup sekitarnya.
                Daya adaptasi manusia terhadap perubahan unsur-unsur iklim relatif terbatas. Kelebihan manusia dari hewan dan tumbuhan adalah bahwa manusia dengan akalnya mampu untuk memodifikasi iklim mikro sehingga lebih sesuai untuk kebutuhan hidupnya (Lakitan, 1997). Memodifikasi iklim mikro di sekitar tanaman terutama tanaman hortikultura merupakan suatu usaha yang telah banyak dilakukan agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Menurut Widiningsih (1985), kelembaban udara dan tanah, suhu udara dan tanah merupakan komponen iklim mikro yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dan masing-masing berkaitan mewujudkan keadaan lingkungan optimal bagi tanaman.
Pertumbuhan organisme yang baik dapat tercapai bila faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan berimbang dan menguntungkan. Bila salah satu faktor lingkungan tidak seimbang dengan faktor lingkungan lain, faktor ini dapat menekan atau kadang-kadang menghentikan pertumbuhan organisme. Faktor lingkungan yang paling tidak optimum akan menentukan tingkat produktivitas organisme. Prinsip ini disebut sebagai prinsip faktor pembatas. Justus Von Liebig adalah salah seorang pioner dalam hal mempelajari pengaruh macam-macam faktor terhadap pertumbuhan organisme, dalam hal ini adalah tanaman. Liebig menemukan pada tanaman percobaannya bahwa pertumbuhan tanaman akan terbatas karena terbatasnya unsur hara yang diperlukan dalam jumlah kecil dan ketersediaan di alam hanya sedikit. Oleh karena itu, Liebig menyatakan di dalam Hukum Minimum Liebig yaitu: “Pertumbuhan tanaman tergantung pada unsur atau senyawa yang berada dalam keadaan minimum”. Organisme mempunyai batas maksimum dan minimum ekologi, yaitu kisaran toleransi dan ini merupakan konsep hukum toleransi Shelford.
( http://www.inforedia.com/2010/03/faktor-pembatas-ekosistem.html)
                Pengaruh faktor-faktor lingkungan dan kisarannya untuk suatu tumbuh-tumbuhan berbeda-beda, karena satu jenis tumbuhan mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda menurut habitat dan waktu yang berlainan. Tetapi pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh: jumlah dan variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien dan faktor fisik, misalnya suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan tersebut. Pengertian tentang faktor lingkungan sebagai faktor pembatas kemudian dikenal sebagai Hukum faktor pembatas, yang dikemukakan oleh F.F Blackman, yang menyatakan: jika semua proses kebutuhan tumbuhan tergantung pada sejumlah faktor yang berbeda-beda, maka laju kecepatan suatu proses pada suatu waktu akan ditentukan oleh faktor yang pembatas pada suatu saat. ( http://www.inforedia.com/2010/03/faktor-pembatas-ekosistem.html)






Hasil analisis video

Dari papran video diatas bahwa tanaman padi diberikan dan dianjurkan untuk diberikan  unsur-unsur nutrien . Pada video ini Nutrein merupakan salah satu faktor pembatas . Tumbuhan padi  untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrien tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat, fosfat dan lain sebagainya yang terbagi 2 nutrien Makro dan Mikronutrien) dalam jumlah minimum. Dimana masing-masing unsur berperan penting dalam pertumbuhan tanaman padi. Untuk menghasilkan hasil yang menguntungkan harus memiliki nutrisi- nutrisi yang tepat, jumlah yang tepat pada waktu yang tepat dan nutrisi yang tepat untuk tanaman padi yang sehat. Nitrogen, fosfor, dan kalium adalah nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah besar relatif. Pasokan produk-nutrisi penting dari tanah, air irigasi, dan sering tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman untuk profitabilitas yang tinggi. Jika hal tersebut tidak terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu. Dalam hal ini unsur-unsur tersebut sebagai faktor ekologi berperan sebagai faktor pembatas.

Minggu, 02 Oktober 2011

aute & sinekologi

Autekologi & Sinekologi

Fungsi ekosistem menunjukkan hubungan sebab akibat yang terjadi secara keseluruhan antar komponen dalam sistem. Ini jelas membuktikan bahwa ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta dengan semua komponen yang ada di sekitarnya.
Di dalam ekologi tumbuhan ada dua bidang kajian, yaitu Autekologi dan Sinekologi.
a.    Autekologi, yaitu ekologi yang mempelajari suatu spesies organisme atau organisme secara individu yang berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh autekologi misalnya mempelajari sejarah hidup suatu spesies organisme, perilaku, dan adaptasinya terhadap lingkungan.
b.    Sinekologi, yaitu ekologi yang mempelajari kelompok organisme yang tergabung dalam satu kesatuan dan saling berinteraksi dalam daerah tertentu. Misalnya mempelajari struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka margasatwa, atau di taman nasional, dan lain sebagainya.
Salah satu contoh pendekatan ekologi tumbuhan dalam kajian sinekologi atau autekologi yaitu:
Hasil review.
Dari judul dan isi jurnal diatas dapat diketahui bahwa penulis/peneliti atas nama bapak Syamsul Hidayat . Termasuk golongan pendekatan ekologi tumbuhan dalam kajian sinekologi karena penulis mengindentifikasi kelompok organisme tumbuhan obat yang saling berinteraksi di daerah tertentu atau kawasan tertentu yaitu Hutan Taman Nasional Alas Purwo terletak di daerah Banyuwangi serta penulis/peneliti  menekankan pada bagaimana struktur,komposisi dan status tumbuhan di Taman Nasional Alas Purwo. Dimana status tanaman obat di Taman Nasional Alas Purwo termasuk salah satu kawasan yang menyimpan jenis-jenis tumbuhan obat langka dan tumbuhan berpotensi, diantaranya : Alstonia scholaris banyak ditemukan di samping tumbuhan merambat Piper retrofractum, Arcangelisia flava ditemukan cukup banyak namun penyebarannya tidak merata dan Parkia roxburghii  ditemukan kurang dari lima individu dewasa. Dari strukturnya, jenis-jenis tumbuhan obat langka ini tidak meyakinkan untuk dapat bertahan lama dialam.  Sementara komposisi jenis tumbuhan obat langka banyak ditemukan jenis-jenis pohon berkayu dan liana yang penyebarannya terbatas. Jadi jelas bahwa jurnal ini mengandung filosofis, deskriktif dan deduktif dimana merupakan ciri-ciri khusus kajian sinekologi.

Selasa, 27 September 2011

PembelaJran KoOperatIve

Universitas Muhammadiyah Malang

Nama :Ilham Budi Setyawan                      Mata Kuliah   : Belajar Pembelajaran
NIM    : 20101000311059                              Dosen              : Husamah, S.Pd
Kelas   : Biology 2B

Implementasi Pembelajaran Kooperative
Tipe Paired Storytelling dalam Pembelajaran Menyimak Cerita Anak

Pendekatan Pembelajaran Cooperative
Dalam pembelajaran guru dituntut memiliki kemampuan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat. Kemampuan tersebut sebagai sarana usaha dalam memilih dan menemukan pendekatan pembelajaran untuk menyajikan materi pembelajaran yang tepat dan sesuai program pembelajaran. Dapat dirumuskan bahwa pendekatan pembelajaran adalah suatu cara yang dipilih guru dalam mengelola secara sistematis kegiatan pembelajaran dari beberapa komponen pembelajearan (materi pembelajran, siswa, waktu, alat, bahan, metode pembelajran dan evaluasi) dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pembelajaran yang melibatkan potensi anak akan memberi pengalaman tersendiri bagi anak. Menurut Dale tergambar jelas bahwa kemampuan siswa akan cepat diperoleh melalui kegiatan dimana siswa sendiri yang terlibat di dalamnya
Pembelajaran cooperative merupakan setrategi pembelajaran yang dapat membantu guru mengubah keragaman siswa menjadi satu kekuatan yang dapat mendukung dan menantang perolehan prestasi belajar siswa, terutama siswa sekolah menengah. Pembelajaran kooperatif bukan hanya mampu mengembangkan kompetensi siswa tetapi juga mampu mamberikan pengalaman pada siswa serta mampu mengembangkan kerjasama dalam kelompok utamanya dalam menemukan dan menyelesaikan masalah.
Menurut Johson, DW. Johson, Rt Hamabee EJ. (1911;12), cooperatrive leraning adalah kegiatan belajar menagajar secara kelompok-kelompok kecil tempat siswa bealajar dan bekerja sama untuk sampai kepada pengalaman  belajar yang optimal, baik pengalaman individu mupun kelompok. Dari kegiatan tersebut terssirat tiga karakteristik cooperative learning, yaitu kelompok kecil, belajr/bekerja sama, dan pengalaman belajar.
Walaupun pembelajran kooperative merupakan belajar kelompok. Pada prinsipnya pembelajran kooperative tidak sama dengan sekedar belajar kelompok biasa, seperti yang selama ini dipraktekan dalam pembelajaran di sekolah. Aernds (1997:132) mengemukakan bahwa perbedaan belajar koperatif dengan  belajar kelompok terletak pada prosesnya, yakni belajar kooperatif menekankan pada proses bekerja sama untuk mencapai hasil bersama, sedangkan belajar kelompok biasa lebih menekankan pada hasil keolmpok.
Seperti halnya dalam Skripsi yang berjudul “Efektivitas Metode Diskusi Kelompok Dalam Pembelajaran Mengarang” yang ditulis oleh Nunik Nur Rahmi Fauziah (2009), Menjelaskan bahwa menggunakan tehnik berkelompok lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan metode pengajaran konvesional.
Dalam pembelajaran koopearatif peranan guru sangat kompleks. Disamping sebagai fasilisator, guru juga berperan sebagai manajer dan konsultan dalam memberdayakan kerja keolompok siswa. Johson, DW. Johson, RT. Hambee EJ. (1991;15) menyatakan bahwa dalam coperative learnig guru memiliki liama peranan penting yaitu, (1) menyampaiakan tujuan pembelajaran dengan sejelas-jelsnya, (2) membentuk kelompok-kelompok kecil dengan  menempatkan siswa secara heterogen, (3) menyampaiakan tugas yang harus dikerjakan siswa dengan sejelas-jelasnya, (4) memantau efektifitas kerja kelompok dan menyediakan bantuan kepada siswa untuk memaksimalkan kerja kelompok, dan (5) mengevalusi hasil kerja kelompok dan membantu sisiwa berdiskusi tentang manfaat kerja kelompok.
Teknik Paired Storytelling atau Cerita Berpasangan
Pired Storry Telling adalah salah satu tipe dari metode Cooperative Learning yang diterapakan dalam pembelajaran. Teknik paired storytelling atau cerita berpasangan  merupakan teknik yang  memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.
Metode paired storry telling ini adalah metode kooperatif yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antar siswa, pengajar dan bahan pelajaran (Lie,1994). Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, menyimak dan bercerita. Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, menyimak dan berbicara. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skema atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam kegiatan ini siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. Hasil pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar dan menambah motivasinya. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomuniksi. Bercerita berpasangan bisa digunakan untuk suasana tingkatan usia anak didik.
Lebih lanjut dikatakan bahwa teknik  paired storytelling atau cerita berpasangan  bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya. Dalam teknik ini, guru  harus memperhatikan skemata pembelajaran agar aktivitas kelas dapat berjalan dengan lancar.
Pired Story Telling adalah teknik Pembelajaran yang memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa. Dalam teknik ini guru memberikan teks karangan menjadi dua bagian yaitu bagian awal dan akhir. Siswa diminta berpasangan lalu guru memberikan teks karangan bagian awal kepada sisiwa pertama, dan teks bagaian akhir. Siswa bekerjasama untuk memberikan informasi mengenai bagian yang dibacanya dengan menuliskan kata kunci. Dari kegiatan itu siswa dapat menyelesaikan sebuah karangan secara utuh dengan bantuan kata kunci yang telah diberikan oleh pasangan pada bagian yang belum diketahui atau bagian yang tidak terbaca (Lie,2003:71).
Penulis pun telah membaca beberapa buku dan skripsi yang mengangkat keefektifan suatu metode kooperatif dalam kelasnya. Seperti pada skripsi yang ditulis oleh Nuril Nur Alif (2009) yang berjudul “Pembelajaran Menulis Karangan Narasi dengan Menggunakan Teknik Paired Story Telling (Eksperimen pada siswa Kelas VII SMPN 12 Bandung)”, menjelaskan keefektifan dari teknik Paired Storry Telling yaitu terbukti dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi dalam pelajaran bahasa Indonesia.
            Mengingat peranan menyimak dalam proses belajar berbahasa sangat besar, maka diperlukan suatu teknik yang efektif dalam pembelajaran keterampilan menyimak. Teknik  pembelajaran merupakan hal yang penting dalam pembelajaran menyimak, khususnya pembelajaran menyimak di sekolah dasar. Dengan teknik yang efektif, pembelajaran menyimak  akan mencapai tujuan yang diharapkan
Salah satu teknik yang dapat diterapkan dalam pembelajaran keterampilan menyimak  adalah teknik paired storytelling atau cerita berpasangan. Teknik paired storytelling atau cerita berpasangan merupakan salah satu teknik pembelajaran dalam pendekatan cooperative teaching learning. Dengan teknik cerita berpasangan  ini kegiatan belajar mengajar sepenuhnya dilakukan oleh siswa. Guru hanya sebagai fasilitator, motivator, dan mediator dalam pelaksanaan proses pembelajaran.  Teknik ini menekankan agar siswa saling berinteraksi dan bekerja sama dengan siswa yang lain. Unsur gotong-royong sangat diutamakan  dalam teknik ini. Siswa tidak hanya berkompetensi secara individual, melainkan mereka dapat membangun komunikasi antar kelompok. Selain itu, teknik ini juga menggabungkan keterampilan bahasa yang lain, yaitu membaca, menulis dan berbicara.

Prosedur Teknik Paired Storytelling atau Cerita Berpasangan dalam Pembelajaran Keterampilan Menyimak Cerita Anak
   Prosedur teknik cerita berpasangan  sebagai berikut.
1.    Siswa dibagi menjadi dua kelompok. kelompok pertama  dan  kelompok kedua.
2.    Sebelum bahan pelajaran diberikan, guru melakukan brainstroming mengenai topik yang akan disampaikan hari ini.
3.    Guru membagi satu bahan cerita menjadi dua bagian, (bagian pertama dan  kedua).
4.    Bagian pertama cerita diberikan kepada pembaca kelompok pertama, sedangkan pembaca kelompok kedua menerima bagian cerita yang kedua.
5.    Salah seorang pembaca dari kelompok pertama membacakan cerita bagian pertama, sedangkan kelompok kedua menyimak dengan menuliskan kata atau frase kunci. Setelah itu, salah seorang pembaca dalam kelompok kedua membacakan cerita bagian kedua, sedangkan kelompok pertama menyimak dengan menuliskan kata atau frase kunci pula.
6.    Setelah cerita bagian pertama dan cerita bagian kedua selesai dibacakan oleh pembaca tiap-tiap kelompok, kemudian kata atau frase kunci yang telah mereka buat, saling ditukarkan antar kelompok dengan berpasangan.
7.    Setelah semua kata atau frase kunci setiap bagian cerita dicatat, tiap-tiap siswa menceritakan kembali cerita yang mereka simak berdasarkan kata atau frase kunci yang mereka catat.
8.    Setelah cerita  selesai dibuat oleh para siswa, kemudian mereka menjawab soal-soal yang berhubungan dengan cerita yang telah mereka simak, yang dibuat oleh guru dengan teknik 5W+1H.
9.   Selanjutnya, siswa mengumpulkan jawaban soal dan cerita yang telah mereka susun.
10.  Guru memanggil nama beberapa siswa untuk membacakan hasil ceritanya di depan kelas, sambil membagikan cerita lengkap kepada tiap-tiap siswa.
11.  Kegiatan diakhiri dengan diskusi mengenai soal-soal yang telah para siswa kerjakan.
Teknik paired storytelling atau cerita berpasangan menggabungkan teknik pembelajaran keterampilan menyimak yang lain, yaitu teknik identifikasi kata kunci, teknik merangkum,  dan teknik menjawab pertanyaan 5W +1H. Teknik-teknik lain yang dapat digunakan dalam pembelajaran keterampilan menyimak menurut Tarigan D.& H.G. Tarigan (1987:82) adalah: dengar-ulang ucap, dengar-tulis atau dikte, dengar kerjakan dengar-terka, memperluas kalimat, menemukan benda, bisik berantai menyelesaikan cerita, identifikasi kata kunci, identifikasi kalimat topik, merangkum,  parafrase, dan menjawab pertanyaan 5W+1H.
Manfaat Implementasi Pembelajaran Cooperative Tipe Paired Storry Telling dalam Pembelajaran Menyimak Cerita Anak
            Teknik paired storytelling atau cerita berpasangan dalam pembelajarann keterampilan menyimak cerita anak di Sekolah Dasar akan sangat bermanfaat bagi guru dan siswa dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Dengan teknik paired story telling atau cerita berpasangan, pembelajaran sepenuhnya dilakukan oleh siswa. Guru hanya sebagai fasilitator, motivator, dan mediator dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Teknik paired storytelling atau cerita berpasangan juga dapat meningkatkan kerja sama antarsiswa dalam kegiatan mereka di kelas, lebih menekankan daya simak siswa karena hasil simakannya akan dipertanggungjawabkan kepada pasangannya. Semakin baik daya simak siswa, maka materi yang disampaikan guru akan semakin mudah dipahami.